Malam dalam variasi hatimu

Setelah musim penghujan
Ingatanmu membicarakan hujan
Tapi kau malah minta pelangi

Pancaroba di dadamu
Dinginya mendekat
Angin gaduh. Malam remuk:
Ibumu lupa berdoa. Anakmu membawa pelangi.
Tak ada akhir, tak ada tubuh.

Kata-kata sudah lelah. Dadamu sudah penuh.
Purnama bikin makin gigil.
Aku dingin. Di sisiku buku penuh wajahmu.
Purnama bikin makin kering.
Tinggal gaduh angin: sepi main-main di dalamnya.

Subuh masih jauh. Kepastian cuma jadi kata rindu.
Langit tetap biru. Ia belum yakin besok ada hujan.
Di dadamu, kemarau jadi utuh. Malam kering.
Sekitaranmu ranggas, sisanya makin miskin.

Tak ada yang jatuh, tak ada yang rubuh.
Malam tak punya hiruk pikuk, tak pula kamu.

Advertisement
Published in: on July 26, 2010 at 8:53 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: http://oranekoneko.wordpress.com/2010/07/26/193/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.