Setelah musim penghujan
Ingatanmu membicarakan hujan
Tapi kau malah minta pelangi
Pancaroba di dadamu
Dinginya mendekat
Angin gaduh. Malam remuk:
Ibumu lupa berdoa. Anakmu membawa pelangi.
Tak ada akhir, tak ada tubuh.
Kata-kata sudah lelah. Dadamu sudah penuh.
Purnama bikin makin gigil.
Aku dingin. Di sisiku buku penuh wajahmu.
Purnama bikin makin kering.
Tinggal gaduh angin: sepi main-main di dalamnya.
Subuh masih jauh. Kepastian cuma jadi kata rindu.
Langit tetap biru. Ia belum yakin besok ada hujan.
Di dadamu, kemarau jadi utuh. Malam kering.
Sekitaranmu ranggas, sisanya makin miskin.
Tak ada yang jatuh, tak ada yang rubuh.
Malam tak punya hiruk pikuk, tak pula kamu.
