Sepagi ini saja, aku gila memikirkanmu.
Seandainya fajar adalah kau..
Semburatmu adalah hal yang menimbulkan rindu
Sepagi ini saja, aku gila memikirkanmu.
Seandainya fajar adalah kau..
Semburatmu adalah hal yang menimbulkan rindu
Setelah musim penghujan
Ingatanmu membicarakan hujan
Tapi kau malah minta pelangi
Pancaroba di dadamu
Dinginya mendekat
Angin gaduh. Malam remuk:
Ibumu lupa berdoa. Anakmu membawa pelangi.
Tak ada akhir, tak ada tubuh.
Kata-kata sudah lelah. Dadamu sudah penuh.
Purnama bikin makin gigil.
Aku dingin. Di sisiku buku penuh wajahmu.
Purnama bikin makin kering.
Tinggal gaduh angin: sepi main-main di dalamnya.
Subuh masih jauh. Kepastian cuma jadi kata rindu.
Langit tetap biru. Ia belum yakin besok ada hujan.
Di dadamu, kemarau jadi utuh. Malam kering.
Sekitaranmu ranggas, sisanya makin miskin.
Tak ada yang jatuh, tak ada yang rubuh.
Malam tak punya hiruk pikuk, tak pula kamu.
jatuh cintalah padaku lagi, kubawa bunga dan janji yang lebih manis dari pujian Tuhan dan puisi cinta. jatuh cintalah padaku lagi, aku mengemis rindumu akanku dan kekuatanmu. jatuh cintalah padaku lagi, jadilah jantung dan Bapak bagi anakmu yang ku kandung.
jatuh cintalah padaku lagi jika bisa dan memungkinkan.
Daun-daun yang dulu
Kau riwayatkan sebagai pertanda
Basahnya desember sudah hanyut
Tinggal mitos perihal hujan
Yang tersisa dari ingatanku
Padamu
Tak pernahkah kita dulu membuat puisi
Di dedaun yang kau kisahkan
Agar kita bisa menjadikanya suci
Sebagai kitab, sebagai janji kita
Pada hidup. Yang tak henti
Menderaskan kata perpisahan
Karena perbedaan kita
Sebab, seperti sekarang
Musim kemarau meminta dedaun jatuh
Memohon engkau pergi dan hanyut
Tanpa sisa atau pernyataan
Taman kota, oh duhai taman kota
Ke mana kau alirkan rinduku
Aku memilih mencintaimu
Sebagai batu
Yang selalu melengkapi
Taman-taman rumahmu
Aku takkan menjelma kuncup
Atau bunga bagi hatimu
Aku yang berkeras mencintaimu
Menjaga dari hujan perasaan
Yang berlebih. Yang jika kau terhanyut
Kau menjadikan aku sebagai pegangan
Aku sulit melebur penuh
Dalam dirimu. Akulah sebagianmu;
Sebagai jalan terjalmu, akulah pengantarmu
Ke hakikat, dimana kau dan Tuhan bersatu
Aku bukan kesulitanmu
Aku satu dari sekian tempat semedimu
Aku tak paham perubahan cintamu
Maka, jika kau mencintaiku
Jadilah tanah. Kau akan menampungku
Lalu menenggelamkan aku ke dalammu
Pagi yang manis, Semanis teh yang kusruput setengah gelas.
Masih mencoba tersenyum semanis mungkin diantara raut muka yg sedang penuh tamu; mr. & mrs. Jerawat dan beberapa puluh keponakannya yg ikut singgah memenuhi ruang jidat dan serambi pipi kanan.
Mudah2an peruntungan ku baik hari ini. Sebait doa Alfatihah yg paling fasih kuhafal , kubaca cepat sebelum menyalakan mesin …. Amin.. .lancar lancar lancar…huff huff… semburan dua kali, komat kamit seperti supir angkot yg berharap dapat banyak setoran. . mudah2an dynamo kipasnya gak ngadat lagi. Kunfayakun!…..
Macet dan nglangut . dua hal yg paling kusuka! Suka banget sama macet! (dalam arti yg sebenar benarnya macet! Huh!! Lho…?? ) Jadi punya banyak waktu buat bengong, ngayal.. .wuihh asikk… paling paling nguping obrolan tante putri sama rafik yang nyambung sama aku karna kejadulannya itu, atau tike sama Ronald yang suka bikin geli… kocak, ringan.. cukup menghibur dengerin dua penyiar ajaib itu. Pilihan lainnya farhan, yup! Pagi ini coba nongkrongin farhan ah.. kadang pagi gini temanya suka bikin otak yg geser jadi bener. Sumpah deh… beberapa kali pagi ngetune-in di delta rasanya ada sesuatu yg nampar nampar … “come on wake up! Bebenah! Banyak banget tuh didiri lw yg kudu diservice! Bukan mobil loe doang tuh yg kudu mbengkel! Hati n otak lw lebih perlu! “ Weks… iyak.. bengkelnye dimane ?? dari denger radio tiap pagi?? Haiyahh… Kuliah subuh lebih nendang kali .. tapi ternyata gak juga lho… dimanapun kapanpun dan dengan siapapun kita bisa kok belajar, bebenah, asal kita mau memandang sesuatu dari luar diri kita juga. Dan pagi ini aku dapet sesuatu dari hasil pengembaraan kupingku di rimba radio deltanesianya Farhan . “ Berbicara dan mendengar dengan Hati”…. mantab kalipun.…. Yaa gitu… kalau selama ini aku adalah orang yang super ngeyel, super nyolot dan pembantah.. (begitu kata keluarga dan orang orang terdekat yang sudah capek berdebat kusir sama aku) maka pagi ini… pas di depan jalan pakubuwono yg macet aku merenung. Ketika aku bicara dan orang lain membantah, aku akan membalasnya dengan bantahan. Atau saat aku membuat pernyataan dan orang lain mengkritik aku pasti akan langsung membalas kritikan itu juga… begitulah aku slama ini… hmm..belum blajar mendengarkan dengan hati, apalagi bicara.
Di samping metro mini yang hampir mepet di sampingku aku bertekad: aku mau belajar! Bicara dan Dengar dengan hati, teng.. mulai dari sekarang!; Pak metromini… sedang kejar setoran demi anak istri yahh??!!… aku mendengar lho jeritan hatimu…baiklah.. Silahkan mendahului….(dalam hati; Kampret!!)
Siang lengang yang panjang , waktu hampir mengantuk ada sms masuk; dari teman yang sedikit curhat masalah pribadinya. Lalu dengan sok bijak aku mambalas sms dengan ajakan, yg singkatnya ‘ yuk.. belajar mendengar dan bicara dengan hati’. Lalu belum lama HP kutaruh… sms 1 , 2, 3 lembar masuk , balasan dari si teman itu… ups dia marah. Kok gini ya .. .sama sekali jauh dari maksud yg ingin kusampaikan padanya. Kontan aku langsung berbalas sms dengan si teman itu melampiaskan emosiku yg gak kalah marah; Gosh… aku kepancing! Gagal maning belajarku hari ini… bener bener gak punya anger management , payah! Dua hari yg lalu teman sekantorku lecet baret kena tonjok dan cakarku, rasanya kok barbarian banget yah…preman banget dehh, kenapa darah solo kakekku gak mengalir setetespun, hahaha… ngaruh yahh… mau solo kek batak.. sama aja kali.. memang darah german ku lebih kuat ehehemm..
Mulai lagi deh… starting sore ini, duh Gusti Pangeran paringono sabarr… kuatkan tekadku. Aku ingin seperti layaknya perempuan jawa yang ngerti unggah ungguh, totokromo, bukan hanya wong kuto rai ndeso kelakuan katro, semelekete!
tak ada perjalanan
yang bisa meminum air mataku
aku semacam jalan itu sendiri
kedatangan adalah aku, pun kepergian
tak ada rindu yang mengekal
di malamku. cinta adalah pertahanan
diriku adalah suara-suara
malam diam serta tubuh rapuhnya

Aku ingin benar benar menulis
Mengalirkan pikiran menumpahkan perasaan
Aku ingin menuliskan airmataku.. seperti apa baiknya aku gambarkan.
Terlintas seorang teman yg sedang marah menulis status di fesbuknya gambaran soal hujan, “sampai hujan bekelir gw ga akan angkat telp lu”{bekelir=berwarna dalam bahasa betawi} membuatku tertawa dan terbayang seperti apa air yg berwarna.. bagaimana dengan air mata yg berwarna warni ketika kita menangis… akankah membuat kita terlihat cantik.. ataukah akan menghibur dan membuat kita berhenti menangis lalu bermain main dengannya.. atau justru sebaliknya .. membuat kita terlihat seperti badut.. yang jelas itu berarti kiamat, aku belum siap menangis dalam warna warni biru, merah, hijau atau pink kesukaanku sekalipun. namun setelah itu selesai hidupku, A big No. kalau air mata berwarna hitam tentu saya pernah, setiap wanita yang berdandan tebal lalu dia tidak berdamai dengan airmata hasil tangisnya akan berwarna hitam lelehan mascara atau eyeliner , jelek sekali. … lalu bagaimana dengan air mata buaya? Aih… kasihan sekali sibuaya … selalu jadi symbol ketidaksetiaan dan ketidak benaran manusia.
Mungkin aku bayangkan air mataku seperti kadal yng meneteskan air mata berwarna merah ketika mendapat serangan yg mengancam, hmmm… memberi kesan horror, ekstrim, sakit… rasanya kok tidak cukup mewakili perasaanku yg sebenarnya.. Lalu bagaimana..? aku ingin menangis tanpa orang lain mendengarnya.. aku ingin benar benar tumpah tanpa jejak sembab..
Menangis untuk sesuatu yg tidak jelas. Tanpa perlu alasan. Hanya menangis saja, peduli setan.. aku hanya ingin menangis!
Pada jam tujuh kurang sebelum bel sekolah disamping rumahku berbunyi , halaman depan rumah selalu ramai dengan bocah . aktivitas standard menunggu jam belajar biasanya mereka gunakan untuk bercanda dengan teman atau sekedar mengunyah jajanan pengganjal perut diwarung cilik milik mang udin. Pemandangan biasa yang tak pernah menarik perhatian ditengah kerepotanku setiap pagi dengan berbagai tas, rol rambut, ponsel, sepatu dan kadang cemilan sarapan yang selalu kulempar ke jok belakang .
Tapi pagi itu tidak sebebal biasana, hariku lebih longgar dan aku sempat sekedar duduk memanasi mesin dan memutar radio lalu menikmatinya. Dari kaca spion itu tiba tiba ku tangkap seorang bocah dengan penampilan unik yang menyeringai memamerkan sederet giginya yang tak terlalu putih. Bocah kurus berkulit gelap dengan celana ala jojon yang dipakai diatas pusar hampir kedada dengan sabuk hingga bagian bawah celananya naik keatas menjadi cingkrang. Dia asik dibelakang mobilku dan tersenyumsenyum sendiri mengamati sesuatu yang menarik buat dia pastinya. Ahhh.. tak sempat mencari tau apa yang membuatnya tersenyum senang aku segera menancap gas ketika jam ditangan sempat kulirik dan jarumnya terus berputar. jakarta , lima menit sangat berarti, bernilai rupiah.
Pagi ini kuurungkan niatku untuk melakukan panggilan telepon wajib menyapa pujaan hati dijauh sana karna magnet bocah itu kembali menarik perhatianku dengan senyumannya yang mengarah ke ekor mobil tepat saat aku menyalakan mesinnya. Ada apa dengan senyum itu? ya.. masih keheranan aku terus mengawasi tingkahnya. Lalu ia berputar , sedikit melompat dan tersenyum lebih lebar mengawasi mobil lain yang parkir disebelahku dengan mesin menyala. aku mencoba menerka si bocah ini tertarik dengan asap knalpot, dengan knalpot, atau hanya asapnya, entahlah. Dia begitu riang, senyumnya terbentuk ketika mesin mobil dinyalakan , asap keluar menembus udara pagi lewat lubang knalpot dan ia mendapat mainannya seketika itu, sesederhana itu. Bocah yang polos, diusia yang tigabelas tahunan seharusnya kamu sudah tak bermain dengan asap knalpot dik. Aku tertarik untuk mengenalnya, sekedar menyapa lalu bercakap tentang knalpot . Ah.. pasti dia punya alasan yang sederhana dibalik senyumnya yang lugu.
Arisan, satu kata yang identik dengan ibu-ibu, makan-makan,sosialisasi, silaturahmi dan uang tentunya . Tujuannya adalah perputaran uang yang tidak ada untung bunga dan tidak ada rugi biaya pajaknya. Sistem undian dan keberuntungan kita sendiri kalo bisa dapat arisan ini diawal pengocokan atau dapet pas dengan saat-saat GBU (gue butuh uang ) yang sering kita alami bagi yang tidak punya tabungan seperi saya ini. itulah sekelumit pengetahuan saya soal arisan yg ilmunya saya dapet dari ibu saya yg hobby banget ngarisan sana sini.
Arisan, kali ini agak melenceng dari makna yg sebenarnya. Anggotanya pria dan wanita , (kebanyakan pria disini memang dipaksa oleh wanitanya yg sedikit lebih ganas), tempatnya dipilih yang bisa mengakomodir kebutuhan kita untuk ngobrol hingga larut, tidak terlalu ramai, makanan standard, kopi hingga area merokok . Tujuannya juga sedikit berbeda karna pada pengalaman perdana pengocokan tak ada kertas lintingan yg berisi nama peserta berbungkus sedotan dan gelas kocok. Masing masing dari kami saling menuduh untk memilih pemenangnya dan tertuduh menuduh balik , saling menolak dan akhirnya pemenangnya menerima uang dengan keadaan terpaksa. Aneh, arisan model pertemanan alumni satu sma ini sedikit unik. Masing masing kami punya kelemahan yg sama dan kami sadar betul bahwa kami bukan orang yg cukup bertanggung jawab, sangat berbahaya kalau setelah dapat arisan lalu kami malas untuk hadir lagi , itulah kelemahan kami. Dan kelebihannya kami sadar betul akan kekurangan itu .
Arisan aneh kedua yang pernah aku ikuti. Dikantorku, arisan peserta wajib seluruh karyawan terkecuali bos. Sedikit gossip kami tidak mengajaknya arisan karna arisan yg diikuti si bos itu nominal dua digitlah. manalah dia mau arisan model kecil begini. System pengocokannya adalah semua peserta mengambil satu lintingan kertas, dan didalam kertas kita itu nanti kita akan menemukan kata-kata pantun, puisi, cacian atau lagu yg dibuat lucu yang berarti kita kalah atau menang arisan. Satu lagi gossip, kadang kita pakai foto bos dikertas kocokan sbagai lambang menang arisan .. maaf bos.. karna dibenak kami figure bos melekat sekali dengan uang, materi, pokoknya bos banget gitu lho..
Ya inilah catatan ga pentingku, laporan seputar pengalaman arisan. Arisan yang benar benar arisan uang, bukan barang berupa panci, diamond, mobil ataupun orang. kami belum semodern itu untuk arisan berhadiah orang.. wah.. membayangkannyapun belum sanggup.